Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2012

Suara Hati Kita

Adakah yang lebih bening dari suara hati, kala ia menegur kita tanpa suara?
Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata?
Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari kasalahan dan alpa?

Saat paling indah dari putaran waktu kehidupan, adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendegar suara hati.
Sebab, dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar.
Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakan yang kokoh: niat dan orientasi yang lurus.

"Istafti qalbak." mintalah fatwa pada hatimu...

"Mintalah fatwa pada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa kepadanya dan tenteram pula dalam hatinya. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya" (HR. Muslim)

Bercermin dari Anak-anak

Anak-anak. Tingkah mereka seringkali membuat kita tersenyum. Keluguan mereka seringkali membuat kita tersindir. Pertanyaan mereka yang spontan seringkali membuat kita terpojok. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari tingkah laku anak di sekitar kita, kalau kita mau mengamati.

Anak-anak selalu mengawali harinya dengan ceria. Tidak pernah terbersit kekhawatiran di wajah mereka, “hari ini akan makan apa?”. Keceriaan mereka menngajarkan kepada kita untuk selalu optimis dalam menghadapi hidup ini. Walaupun BBM akan naik, insyaAllah rezekiNya akan datang dari arah tak disangka-sangka yang akan mencukupkan kita.

Dokter mengakui, pasien anak-anak selalu jujur. Mereka akan mengeluh kalau benar-benar merasa sakit, dan itu akan sangat kelihatan dalam ekspresi wajahnya. Kalau mereka sehat maka mereka akan bermain-main dengan riang dan ceria. Sedangkan kalau pasien dewasa kadang menyembunyikan rasa sakitnya, kadang justru pura-pura kesakitan. Anak-anak mengajarkan kita untuk jujur dan bisa menempatkan diri kita.

Anak-anak begitu mudah berbagi makanan, mainan dengan teman-temannya, sedangkan kita berbagi dengan saudara yang membutuhkan pun begitu sulitnya. Anak-anak mudah memaafkan dan tidak mendendam. Ketika anak-anak berebut mainan, bisa jadi kemudian mereka bertengkar dan akhirnya saling memukul. Tapi seringkali lima menit kemudian mereka sudah akur dan bermain bersama lagi. Begitu mudahnya mereka saling memaafkan, sedangkan orang dewasa begitu mudahnya mendendam walaupun hanya karena masalah sepele.
Anak-anak begitu mudah berintrospeksi, ketika mereka merasa diremehkan, mereka mudah menangis dan berusaha mengingat kesalahannya. Sedangkan orang dewasa begitu mudahnya mencela kesalahan orang lain, tapi jarang menyadari kesalahannya sendiri.

Black color

 People still consider whites are better.
 Actually black is the richest color.
 If u blend all of the colors u have, u will get a perfect black color.

Kesuksesan

 Kesuksesan

oleh 'Ambu' Ade Irma pada 22 Juli 2012 pukul 11:23 ·

     Seorang pria sedang berjalan di sebuah tempat untuk mencari harta karun. Sampai akhirnya, tibalah ia di sebuah jalan bercabang tiga. Kebetulan ada orang tua yang sedang berdiri di pinggir persimpangan jalan tersebut.
     Pria itu sedang bingung karena ada tiga jalan menuju arah yang berbeda. Ia pun sulit memutuskan mau memilih jalan yang ingin ditempuh. Lalu ia bertanya pada orang tua tersebut, “Hai, pak tua. Bolehkah saya bertanya? Saya sedang dalam perjalanan mencari harta karun. Tapi di depan saya ada tiga jalan yang berbeda. Bolehkah bapak menunjukkan kepada saya jalan yang benar?” Orang tua itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk jalan yang pertama. Pria itu berterima kasih dan segera mengambil jalan yang pertama.
     Beberapa saat kemudian, pria yang tadi kembali lagi. Tapi kali ini seluruh badannya kotor terkena lumpur. Ia mendekati pak tua itu dan berkata, “Hai, pak tua. Tadi saya tanya arah ke tempat harta karun dan Anda menunjuk ke jalan pertama. Tapi saya malah terjebak ke dalam kolam lumpur yang luas. Badan saya jadi kotor begini.” Ia lalu bertanya, “Sekarang di mana jalan menuju harta karun? Tolong tunjukkan pada saya!”
Orang tua itu tetap tidak bersuara. Ia kemudian menunjuk ke jalan yang ke dua.
Pria itu kemudian berterima kasih dan segera mengambil jalan yang kedua.
     Beberapa saat kemudian, pria tersebut kembali lagi. Badannya bukan hanya terkena lumpur pekat, tapi juga celananya penuh dengan sobekan dan kakinya luka seperti tergores sesuatu.
Kali ini ia mendekati pria tua itu dengan ekspresi wajah yang kesal.Ia berkata dengan sedikit marah, “Hai, pak tua! Tadi saya menanyakan arah menuju tempat harta karun dan Anda menunjuk ke jalan yang kedua. Tapi, jalan itu penuh dengan semak berduri. Seluruh kaki saya jadi terluka karena tergores duri.”
Kali ini ia bertanya lagi, “Sekarang saya tanya sekali lagi, di mana jalan menuju harta karun itu? Anda sudah dua kali membohongi dan mencelakai saya. Sekali lagi berbohong, Anda akan tahu akibatnya.”
Pria tua itu tetap diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sekarang menunjuk ke jalan yang ke tiga.
“Apakah Anda yakin dan tidak berbohong?” tanya pria itu.
Pria tua itu menganggukkan kepalanya dan sekali lagi menunjuk ke jalan yang ketiga.
     Pria itu pun segera pergi meninggalkan pria tua tersebut. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali lagi sambil berlari seperti ketakutan. Dengan napas tersengal, ia bertanya dengan marah, “Hai, pak tua! Apakah Anda mau membunuh saya? Di jalan sana ada banyak sekali binatang buas. Itu sama saja dengan cari mati.”
Pria tua itu akhirnya buka mulut, berkata, “Semua jalan tadi sebenarnya bisa menuju ke tempat harta karun. Hanya saja untuk menuju ke sana, Anda harus melewati jalan tersebut. Anda bisa memilih melewati kolam lumpur, semak berduri, atau binatang buas. Anda bisa pilih salah satu. Kalau benar-benar mau pergi ke tempat harta karun, Anda harus berani melewati salah satunya. Jika Anda tidak mau, silakan kembali saja.”
Begitu mendegar penjelasan dari pria tua itu, ia menundukkan kepala. Ia mundur, membatalkan perjalanannya dan kembali pulang…

Pesan kepada pembaca:
Saya yakin semua orang dengan semangat akan menjawab “Ya” saat ditanya apakah mereka ingin meraih kesuksesan. Namun sebagian besar tidak berani menjawab saat ditanya apakah mereka bersedia membayar harganya. Kenyataan yang sering terjadi adalah banyak sekali orang yang tidak bersedia menempuh jalan kesuksesan yang terlihat sangat berat. Mereka hanya ingin langsung sampai di garis finis, tapi tidak pernah mau melangkahkan kakinya untuk mencapai garis finis tersebut.
Salah satu tantangan berat yang harus Anda hadapi saat berjuang meraih kesuksesan adalah mendorong diri Anda untuk maju meskipun jalan yang sedang Anda tempuh sangat berat, berliku, dan penuh rintangan. Tantangan inilah yang seringkali membuat nyali seseorang menjadi ciut. Tantangan inilah yang akhirnya menyebabkan banyak orang tidak berani membayar harga dari sebuah kesuksesan. Mereka tidak siap untuk membayar dan lebih memilih melupakan kesuksesan yang ingin mereka raih.
Tidak peduli apa pun tujuan yang ingin Anda capai, rintangan tetap akan ada dan tidak akan hilang. Di mana ada kesuksesan, di situ ada rintangan yang menghalanginya. Hanya orang-orang sukses yang berani menghadapi rintangan demi rintangan sampai akhirnya meraih tujuan.
Sebaliknya orang gagal lebih memilih untuk menyerah. Dan yang lebih menyedihkan, mereka bahkan tidak berani mencoba saat melihat betapa beratnya perjalanan yang harus dilalui. Mental mereka sudah dikalahkan jauh sebelum mereka memulai. Rintangan akan selalu berdiri di depan kesuksesan. Anda harus berani melewatinya sebelum berhasil mendapatkan kesuksesan. Ada dua pilihan, mengeluh dan menyalahkan rintangan itu atau mendorong diri Anda untuk mengalahkan rintangan tersebut. Anda boleh menyalahkan rintangan yang kelihatannya selalu menghadang Anda. Tapi cobalah pikirkan, apakah rintangan itu akan hilang dengan cara menumpahkan kekesalan Anda?

Biografi Kepenulisan Blogger

Komunitas Guru Menulis Komunitas bagi para guru/dosen yang se...