Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Maret 2017

Bikin Blog Yukkkk
  1. Definisi Blog
Blog merupakan singkatan dari “web log”. Weblog sendiri merupakan singkatan dari “Logging The Web”yang merupakan bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.Banyak orang mengarikan blog dengan bahasanya sendiri seperti menurut beberapa sumber yang telah ditemukan.
1. Labibah Zain ( Pendiri Blogger Family)
Web dan log (weblog) adalah media di mana pemiliknya menuliskan catatan pengalaman pribadi, opini berupa tulisan maupun gambar yang bisa terus diperbarui dan diakses melalui internet. Pemilik weblog-disebut weblogger-bebas mencurahkan pemikiran baik berupa tulisan maupun gambar di situ, melengkapi dengan desain yang diingini dan melengkapinya dengan fasilitas yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pemilik dan pengunjung weblog-nya.
2. wikipedia Indonesia
Sebuah Weblog, Web log atau singkatnya Blog, adalah sebuah aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan (posting) pada sebuah webpage umum. Posting-posting tersebut seringkali dimuat dalam urutan posting secara terbalik, meskipun tidak selamanya demikian. Situs web semacam itu biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.
3. Definisi Blog Versi Bloggingly
Blog adalah website dengan konten (konten bisa berupa teks, gambar, link, audio atau video) yang di-update secara berkala serta mewakili dan berdasarkan sudut pandang ‘karakter’ tertentu yang menjadikan kontennya khas (umumnya menggunakan sudut pandang personal). Standarnya, konten blog diurutkan secara kronologis terbalik (konten baru di depan, konten lama di belakang) dan dapat dikomentari.
4. Definisi Blog sebagai media Jurnalisme
Blog adalah self publishing journalism, saya mencoba bertolak pikir dari terminologi ini. Self publishing journalism saya artikan secara sederhana sebagai jurnalisme yang dipublikasikan secara mandiri, independen.
Dan masih banyak definisi-definsi yang di utarakan oleh kalangan masyarakat lainnya.

  1. Sejarah Blog
Blog pertama kemungkinan besar adalah halaman What’s New pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Kalau kita masih ingat, Mosaic adalah browser pertama sebelum adanya Internet Explorer bahkan sebelum Nestcape. Kemudian pada Januari 1994 Justin Hall memulai website pribadinya Justin’s Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground yang mungkin dapat disebut sebagai Blog pertama seperti yang kita kenal sekarang. Hingga pada tahun 1998, jumlah Blog yang ada diluar sana belumlah seberapa. Hal ini disebabkan karena saat itu diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus tentang pembuatan website, HTML, dan web hosting untuk membuat Blog, sehingga hanya mereka yang berkecimpung di bidang Internet, System Administrator atau Web Designer yang kemudian pada waktu luangnya menciptakan Blog-Blog mereka sendiri.
Pada Agustus 1999 sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan Blogger.com (diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002 yang lalu) yang memungkinkan siapapun dengan pengetahuan dasar tentang HTML dapat menciptakan Blog-nya sendiri secara online dan gratis. Walaupun sebelum itu (Juli 1999) layanan membuat Blog online dan gratis yaitu Pitas telah ada dan telah membuat Blogger bertambah hingga ratusan, tapi jumlah Blog tidak pernah bertambah banyak begitu rupa sehingga Blogger.com muncul di dunia per-blog-an. Blogger.com sendiri saat ini telah memiliki hingga 100.000 Blogger yang menggunakan layanan mereka dengan pertumbuhan jumlah sekitar 20% per bulan. Blogger.com dan Pitas tentu tidak sendirian, layanan pembuat blog online diberikan pula oleh Grouksoup, Edit this Page dan juga Velocinews.
Sejak saat itu Blog kian hari kian bertambah hingga makin sulit untuk mengikutinya. Eatonweb Portal adalah salah satu daftar Blog terlengkap yang kini ada diantara daftar Blog lainnya. Ribuan Blog kemudian bermunculan dan masing-masing memilih topik bahasannya sendiri, dimulai dari bagaimana menjadi orang tua yang baik, hobi menonton film, topik politik, kesehatan, sex, olahraga, buku komik dan macam-macam lagi. Bahkan Blogger ada Blog tentang barang-barang aneh yang dijual di situs lelang Ebay yang bernama Who Would By That?. Cameron Barret menulis pada Blog-nya essay berjudul Anatomy of a Weblog yang menerangkan tema dari Blog. “Blog seringkali sangat terfokus pada sebuah subjek unik yaitu sebuah topik dasar dan/atau sebuah konsep yang menyatukan tema-tema dalam Blog tersebut.” Secara sederhana topik sebuah Blog adalah daerah kekuasan si Blogger-nya tanpa ada editor atau boss yang ikut campur, tema segila apapun biasanya dapat kita temukan sejalan dengan makin bermunculannya Blog di Internet. Dan ide itu telah terpikirkan, Blogger bahkan sekarang telah membuat Blog dari Blog, dan bahkan Blog dari Blog dari Blog.
Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar berulang kali muncul untuk beberapa subyek atau sangat kontroversial terjadi dalam blogosphere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog.
1. Jenis – Jenis Blog
Blog memiliki beberapa jenis sesuai dengan kebutuhan orang yang mengguakan blog (bloger). Adapun jens-jenis blog yang sering di gunakan oleh para bloger adalah sebagai berikut:
  1. a) Personal Blog
    Disebut juga buku harian online yang berisikan tentang pengalaman keseharian seseorang, keluhan, puisi atau syair, gagasan jahat, dan perbincangan teman.
    b) Blog bertopik
    Blog yang membahas tentang sesuatu, dan fokus pada bahasan tertentu
    c) Blog kesehatan
    Lebih spesifik tentang kesehatan. Blog kesehatan kebanyakan berisi tentang keluhan pasien, berita kesehatan terbaru, keterangan-ketarangan tentang kesehatan, dll.
    d) Blog sastra
    Lebih dikenal sebagai litblog (Literary blog).
    e) Blog perjalanan
    Fokus pada bahasan cerita perjalanan yang menceritakan keterangan-keterangan tentang perjalanan/traveling.
    f) Blog riset
    Persoalan tentang akademis seperti berita riset terbaru.
    g) Blog hukum
    Persoalan tentang hukum atau urusan hukum; disebut juga dengan blawgs (Blog Laws).
    h) Blog media
    Berfokus pada bahasan kebohongan atau ketidakkonsistensi media massa; biasanya hanya untuk koran atau jaringan televise
    i) Blog agama
    Membahas tentang agama
    j) Blog pendidikan
    Biasanya ditulis oleh pelajar atau guru.
    k) Blog kebersamaan
    Topik lebih spesifik ditulis oleh kelompok tertentu. Dan masih banyak lagi.
 Manfaat Blog antara lain adalah:
  1. Berbagi tulisan, baik dalam bentuk cerita, pengalaman dan pengetahuan lainnya. Sehingga orang lain yang membutuhkan, lalu menemukan tulisan Anda, merasakan kebermanfaatan blog Anda. Hitung-hitung cari pahala.
  2. Sarana untuk mempromosikan produk barang atau jasa. Dengan kata lain, blog bisa Anda manfaatkan sebagai toko online.
    3..Dapat menghasilkan uang. Penghasilan tersebut bisa anda jadikan sebagai penghasilan sampingan ataupun penghasilan tetap, asalkan Anda benar-benar serius dalam mengembangkannya. Misalnya mengikuti PPC, bisnis Afiliate, dan lain sebagainya.

    4.Mengikuti kontes. Dewasa ini, berbagai kontes dan lomba, sudah menjamur, baik itu berupa kontes SEO, ataupun kontes review, sehingga memungkinkan para blogger berkesempatan untuk menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah.

    5.Sarana untuk berkreasi, misalnya Anda suka menulis, edit foto, Fotografer, dll. Anda bisa share dan tunjukkan kepada dunia hasil karya Anda.

    6.Menjadi media curhat. Di blog Anda bisa bercerita apa saja yang ingin Anda ceritakan. Tentunya sangat lebih bijak jika itu dapat memberikan dampak positif terhadap pembaca Anda. Sehingga pemikiran-pemikiran Anda dapat anda curahkan dengan plong.

    7.Menjadi media untuk mempopulerkan sesuatu atau diri sendiri. Banyak orang sukses, berawal dari iseng-iseng nge-blog.

    8.Mencari teman. Dalam dunia blogger, kita tidak bisa hidup sendiri, tanpa blogger lainnya, sebagai blogger tentunya membutuhkan blogger lain untuk saling sharing, bertukar link, dll.

    9.Belajar untuk lebih baik. Biasanya sesama blogger akan saling berkomentar satu sama lain, sehingga kita bisa mengetahui kekurangan-kekurangan dalam konten yang kita share.

   10.Yang terakhir adalah memotivasi kita, untuk selalu memberikan yang terbaik kepada pembaca. Karena sebagai manusia.

Kamis, 04 April 2013

Fiksi Mini

Dari Hemingway Ke Tweetfiction

Ingin tahu mengenai tweetfiction – Fiksi mini 140 karakter ? Teruskan membaca…
“ Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi - Ernest Hemingway
Tahukah anda, Ernest Hemingway telah menciptakan rumus dasar menulis fiksi saat menyatakan itu ?
Rumus itu menekankan kesederhanaan, kelugasan, dan ketuntasan pada sebuah karya fiksi. …Alih-alih menjejali fiksi Anda dengan kalimat artifisial & literer yang mengaburkan tujuan cerita.
Tapi pertanyaannya, mengapa Anda perlu mengindahkan pernyataan Hemingway diatas?

Karena pembaca butuh kejelasan

Fiksi adalah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka.
Tapi Anda mungkin kerap keliru menafsirkan definisi tersebut.
Anda kerap menulis fiksi dengan alur cerita meluas, melebar, dan tak jelas juntrungannya.
Masalahnya, pembaca terbiasa menginterpretasi ceritanya berdasarkan pengalamannya di dunia nyata. Karena itu, mereka menuntut cerita yang logis, dapat dipercaya, serta mudah dibandingkan dengan kenyataan.
Itulah penekanan dari rumus Ernest Hemingway.
Seorang penulis fiksi sebaiknya menghindari segala aksesoris & ornamen yang tidak berkontribusi memajukan cerita. Contohnya seperti…. Ayahku matahari. Ibuku bumi. Semesta membesarkan aku dengan cinta seterang bulan purnama.
..dan guna membuktikan kebenaran teorinya, Ernest Hemingway lalu merilis fiksi yang terdiri dari 6 kata saja di tahun 1920. Itulah novel terpendek sedunia:
For sale: baby shoes, never worn.

..Dan ternyata Hemingway bukan yang pertama

Berabad-abad sebelum Hemingway merilis novel terpendeknya, sebuah fiksi mini karya Gaius Julius Caesar telah lahir lebih dahulu:
I came. I saw. I Conquered.
Memang, Julius Caesar tidak bermaksud menulis fiksi. Ungkapan enam kata diatas lebih merupakan refleksi perjalanan hidup sang penakluk dunia. Sejarahlah yang kemudian mempopulerkannya lewat tradisi lisan ke seluruh dunia.
..Dan fakta hari ini membuktikan ungkapan itu telah menjelma sebagai salah satu karya literer paling populer.
..dan hebatnya lagi, karya itu hanya tersusun oleh 3 kata dalam versi aslinya
Veni, Vidi, Vici.

Fiksi panjang & pendek intinya sama saja

Pertanyaannya kemudian, apakah 2 contoh kalimat yang terdiri dari 6 kata diatas layak disebut cerita fiksi ?
Tentu saja.
Hanya kita tidak menyadarinya. Maklum, generasi kita telah dibesarkan dalam pemahaman keliru. Kita terlanjur memahami fiksi sebatas karya-karya tradisional berbentuk novel, atau cerpen, yang minimal terdiri dari 1.000 kata.
…lalu logika kita serta merta menolak kemungkinan adanya cerita fiksi yang tersusun dalam 6 kata saja.
Boleh jadi Hemingway sedang berniat mengolok-olok kita, bukan ?
Tapi tidak. Hemingway sungguh serius saat mengatakan itu.
Lagipula, Anda tidak akan pernah menemukan referensi yang menyebutkan jumlah kata pada tulisan sebagai syarat penulisan fiksi.
Panjang pendeknya cerita hanyalah kategorisasi produk dalam industri penerbitan. Misalnya naskah 1.000 – 7.500 kata disebut cerpen. naskah 7.500 – 20.000 kata disebut novelette… Dan naskah 50.000 – 110.000 kata disebut novel.
Lalu apa syarat sebuah cerita hingga layak dikategorikan sebagai karya fiksi ?
..Menurut Lila Guzman (pengarang Ask the Author), cerita yang lengkap adalah sebuah awal, tengah dan akhir, serta memuat empat elemen wajib yaitu karakter, setting, konflik, & resolusi.
Jadi sebuah cerita layak disebut karya fiksi  selama dia memenuhi seluruh persyaratan tersebut. Bukan karena panjang atau pendeknya sebuah cerita.
Kalau kemudian Ernest Hemingway mengatakan cuma 6 kata saja, mungkin karena itulah ambang minimal cerita fiksi dalam bahasa ibunya bisa memuat seluruh persyaratan tersebut.

Untuk menyamakan persepsi, mari kita membedah karya Julius Caesar

Aku datang, Aku lihat, Aku menang.
  • Cerita diatas dengan gamblang memperlihatkan adanya awal, tengah & akhir
  • Karakternya adalah Julius Caesar (sudut pandang orang pertama tunggal)
  • Konfliknya berupa peperangan antara pihak yang datang versus yang didatangi
  • Latar bertempat di medan peperangan dalam kurun waktu kejayaan kekaisaran Roma dibawah Julius Caesar
  • Resolusinya juga jelas menyebutkan Julius Caesar sebagai pemenang setiap peperangan
Tapi koq… ?
Yah,saya tahu anda ingin protes karena konflik & setting tidak eksplisit dalam cerita.
Tapi anda tentu masih ingat teori Hemingway “ … selebihnya hanya imajinasi”.
Anda tahu, seorang penulis bisa saja membubuhkan imajinasi sampai beribu-ribu halaman jika ingin menulis epos hidup Julius Caesar…Berpangkal dari 6 kata itu, ribuan kalimat selanjutnya bisa berupa sekumpulan karakter pendamping, tempat-tempat peperangan…dan  jalannya peperangan demi peperangan..
Tapi tetap saja, itu tidak bisa memungkiri kenyataan kalau epos itu sebenarnya tetap bisa diceritakan dalam 6 kata saja, benar ?
Bahkan, jika Anda jeli, model karya Julius Caesar diatas juga bisa diadaptasi kedalam beragam cerita fiksi lainnya.
Enam kata diatas… dalam imajinasi seorang sutradara menjadi skenario film Troy.
Tentara Yunani (Achiles cs) mendatangi kota Troya, melihat situasi sebelum merancang strategi kuda troya dan akhirnya memenangkan perang.
Tolkien sadar tidak sadar juga memakainya ketika menulis Lord of The Ring.
Frodo cs datang dari Shire ke Mordor, melihat-lihat situasi agar bisa membawa cincin ke kawah gunung api sebelum bisa mengalahkan mata jahat Sauron.
Bahkan sebenarnya JK. Rowling menggunakan rumus ini dalam Harry Potter…
Harry datang ke dunia sihir, Melihat-lihat situasi (Hogwarts), dan memenangkan pertempuran melawan Dia-Kau-Tahu-Siapa.

Kelahiran Tweetfiction

Sayangnya, sepeninggal Hemingway…penerbitan tidak lagi berpihak pada fiksi mini.
Tapi kita memaklumi mengapa media cetak tradisonal tidak berminat pada kategori ini. Kolom-kolom pada koran yang luas memang sengaja didesain untuk cerpen (termasuk cerbung) dengan kuota minimal 1.000-2.500 kata.
Namun sejarah berubah ketika manusia menemukan internet. Era kedigdayaan koran pun runtuh.
Internet dengan segala fiturnya kini memungkinkan setiap orang bisa mempublikasikan karya fiksinya sendiri.
Fiksi pendek ala Hemingway seolah bangkit kembali dari tidur panjangnya. Bahkan telah menemukan wadah yang tepat di internet berkat kemunculan salah satu fitur microblog bernama Twitter - Twitter adalah fitur blogging dengan karakter terbatas, yakni 140 karakter.
Twitter memungkinkan penggunanya (tweeps) mengirim pesan tertulis (tweet) dalam kuota 140 karakter yang bisa diakses para pengikutnya – Dalam bahasa Indonesia tweet kemudian diterjemahkan menjadi Menciak,  dari kata dasar ciak yang diartikan sebagai bunyi seperti bunyi/kicau anak burung menciap….. Tuwit..tuwit….
Media sosial ini perlahan dilirik oleh mereka yang hobby menulis fiksi, guna menghidupkan kembali tradisi menulis fiksi pendek a la Hemingway.
Para tweeps berlomba-lomba mengicaukan karya fiksi mereka di twitosphere. Bahkan ada akun bernama @fiksimini yang khusus menayangkan fiksi pendek yang di-retweet dari para followersnya.
Disatu sisi twitter memungkinkan para penulis fiksi melatih teknik memadatkan cerita….
…dan pembaca disisi lain, menemukan keasyikan tersendiri saat membaca fiksi-fiksi mungil semacam ini. Meski dibaca sekejap, namun fiksi mini bisa menimbulkan kesan mendalam yang lama…. sama seperti saat kita membaca fiksi panjang (cerpen & novel).
…dan setahun belakangan ini, trend menulis fiksi mungil via twitter bahkan menjadi kategori tersendiri dikalangan penulis dan pembaca fiksi tanah air. Beberapa komunitas kemudian mulai mensosialisasikannya dengan nama fiksi mini.
Tapi saya sendiri kurang sepakat dengan pemberian nama fiksi mini. Sebutan itu tidak punya differensiasi yang tegas.
Selama ini frasa cerita/fiksi mini terlanjur dipakai untuk menamai fiksi pendek 1.000 kata yang populer di koran-koran dengan nama cermin (cerita mini).
Saya sendiri lebih suka menamai fiksi mini dalam 140 karakter dengan sebutan… tweetfiction.
Nama tweetfiction menarik garis demarkasi yang jelas antara fiksi maksimal 140 karakter dengan cerita mini ala koran.  Disisi lain, nama ini juga membatasi dirinya hanya pada fiksi mini yang dipublikasikan dari dan oleh pengguna twitter.
Jadi singkatnya, definisi dari tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter - Contoh & tips menulisnya diulas di artikel  tips menulis tweetfiction..
Tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter –> Click to tweet

Apa yang akan terjadi selanjutnya pada fiksi mini ?

Sayang sekali,  penulis tidak membarengi semangat untuk memasyaratkan tweetfiction dengan disiplin yang ketat.
Karena kesekejapan & kesingkatannya, penulis terkesan menggampangkan proses pembuatan tweetfiction.
Tak ayal lagi, kita dengan gampang menemukan tweet berupa…. puisi, cukilan ide, sketsa gagasan, adagium, pemeo, jargon, atau  potongan dialog… lalu ujug-ujug si penulisnya mengklaim itu sebagai tweetfiction.
Padahal, tanpa kehadiran awal, tengah dan akhir…serta elemen karakter, setting, konflik & resolusi… Anda tidak bisa menyebut sebuah naskah begitu saja sebagai karya fiksi.
..Bagaimana menurut Anda ?

Artikel ngeunaan basa

Leungit Basa, Leungit Budaya

Bagikan ka Lapak Facebook
 
FBS
Internet [Gambar/Ilustrasi: Monumen Basa Indung di Afrika]
K. David Harrison teh dosén Linguistik di Swarthmore College sakaligus Diréktur Risét Living Tongue Institute for Endangered Languages. Panalungtikan étnografina ngawengku élmu pangaweruh masarakat suku pribumi, carita rahayat, dongéng lisan, jeung sistem paélmuan. Hasil panalungtikanana dituliskeun dina buku, When Languages Die: The Extinction of the World's Languages and the Erosion of Human Knowledge wedalan Oxford University Press (2007). Film dokuméntér ngeunaan panalungtikanana, nu judulna “The Linguists”, asup nominasi Emmy Awards. Di handap ieu tarjamahan bebas hasil wawancara jeung K. David Harrison nu dicutat ti rupa-rupa sumber. Hapunten bilih aya nu lepat. Mugia mangpaat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cenah aya sababaraha rébu basa di sakuliah dunya nu saabad ka hareup bakal punah. Naha bisa kitu?
Jumlah pastina mah uing teu nyaho, tapi mun teu salah, kurang leuwih tujuh rébu basa kabehanan. Tina jumlah ieu, para élmuwan geus ngiker-ngiker yén satengahna bakal punah jero 10-100 taun ka hareup.Réa jalma nu curinghak ngadéngé jumlah ieu teh, "Naha geuning uing teu apal?" cenah. Nya pantes teu apal ogé., da kalolobana jalma ukur nyaho di basa nu dominan bae.
Salah sahiji alesan basa daérah punah nyaéta lantaran basa nu dimaksud ngalaman prosés invisibilisasi atawa ngaleungit, tara dipaké deui lantaran panyaturna ngolotan. Salah sahiji contona nyaéta kasus Marie Smith Jones, panyatur pamungkas basa daérah Éyak (salah sahiji basa daérah di Alaska). Anjeunna tos pupus taun 2008. Ku maotna Marie, otomatis basa Éyak punah.

Panyatur basa daérah siga Marie Smith Jones biasana cicing di tempat nu nenggang, béda kampung, atawa pajauh jeung sasama panyatur basa daérahna. Tumerapna, basa nu dikawasana éta tara dipake dina paguneman sapopoé, malah bisa jadi kulawargana euweuh nu nyaho yén aya aya di antara maranéhna nu bisa nyarita ku basa daerah éta.

Dumasar sénsus taun 2005, aya 204 basa daérah nu panyaturna kurang ti 10 urang jeung 344 basa daérah nu panyaturna kari 10-99 urang deui. Upama panyatur-panyatur ieu cicingna misah, laun-laun basa éta teh jadi simpé, tara dipaké dina paguneman deui, laju ngaleungit, nepika ahirna punah sanggeus panyaturna maraot.

Siga nu saab panginten nya? Kawitna mah katingal, lami-lami ngipisan, laju ilang.
Kitu pisan.

Lebar, nya?
Mungguh pikamelangeun keur nu paduli kana pentingna élmu pangaweruh jeung budaya mah.

Salian ti nenggang, béda kampung atawa pajauh, naon deui nu bisa jadi sabab punahna basa daérah? Naha aya hubunganana jeung globalisasi sarta tiori seléksi alam?
Alesan utaman basa daérah punah --di alam globalisasi ayeuna, nyaéta ayana intervénsi ékonomi jeung sosial kana widang basa. Panyatur basa daérah saolah-olah dipaksa mopohokeun basana alatan dikudukeun ku kaayaan. Maranéhna jadi percaya ---ka kultur nu leuwih dominan, yén basa nu dipaké ku maranéhna teh buhun, kampungan, moal matak maju, atawa teu cocog jang kapentingan dunya modérn. Hiji-hijina cara pikeun maranéhna supaya bisa ngigelan jaman nya kudu “ganti létah”, nyarita ku basa nu sipatna leuwih global.

Conto kasus dicaritakeun ku Spartak K., salah saurang panyatur basa daerah Tofa di Sibéria nu lahir taun 1930. Cenah, masarakat Tofa ngalaman diskriminasi jeung paksaan pikeun jadi urang Rusia. “Taun 1950-an, urang Tofa teu meunang asup ka toko upama maranéhna maké baju kulit has Tofa. ‘Dibaju cara urang Rusia heula, kakara meunang balanja!’ kitu, cenah. Suku Tofa gé dicaram maké basa daérah di wewengkonna sorangan. Laun-laun, uing jeung nu séjén eureun nyarita ku basa éta.”

Ieu teh salah pisan. Pikeun mampuh nyarita maké basa global atawa ngigelan jaman, urang teu kudu eureun maké basa daérah tur euweuh nu bisa maksa urang eureun nyarita ku basa daérah. Jalma nu multilingual (bisa nyarita make loba basa) bakal reuwaseun upama hiji poé, manehna ujug-ujug dititah monolingual (nyarita ukur ku sahiji basa). Basa mana nu kudu dikurbankeun atawa diécagkeun? Tangtu kana liwungna. Keur uing pribadi --nu geus biasa nyarita boh ku basa Inggris atawa Perancis, konsép monolingual teh absurd kacida. Leuwih absurd deui lamun nu ditanyana panyatur nu bisa boh basa Cree (basa daérah di Kanada) atawa Inggris, upamana.

Naha basa nu ukur dipaké dina tradisi lisan tapi teu boga tradisi nulis bakal leuwih gancang punah?
Lisan jeung tulisan téh dua hal nu béda. Loba basa di dunya teu boga tradisi tinulis jeung teu butuh tradisi ieu pikeun éksis atawa dianggap onjoy sanajan enya, ayana karya tinulis bisa manjangkeun umur hiji basa. Hiji gagasan bisa ditepikeun jeung disebarkeun jero  hirup kumbuh ku ayana tulisan. Tapi nulis teh hiji téknologi nu kawilang ngiwari. Tradisi lisan boga kaleuwihan nu mandiri. Hanjakal, lantaran geus dibiasakeun hirup dina tradisi nulis, urang teu pati ngahargaan kabeungharan jeung kaampuhan tradisi lisan.

Janten kumaha?
Aya tilu faktor nu ngalantarankeun basa daérah bisa leungit. Faktor kahiji, nyaéta ayana rupa-rupa basa: wewengkon mana nu masarakatna paling multibasa? Faktor kadua, nyaéta kamungkinan punah: basa daérah mana nu saeutik panyaturna? Faktor katilu, basa daérah mana nu dokuméntasina paling saeutik? Loba pisan basa daérah nu teu boga dokuméntasi mangrupa kamus, rékaman atawa arsip pikeun dibaca jeung dijadikeun bahan ajar keur balaréa. Tah, upama tilu faktor ieu ngahiji –rupa-rupa basa, lolongkrang punah jeung saeutikna dokumentasi, hartina basa éta bakal punah. Kari nungguan waktuna baé.

Uing gawé bareng jeung Dr. Greg Anderson ti Living Tongues Institute for Endangered Languages pikeun nalungtik hal ieu, nu ogé mangrupa bagéan tina program Enduring Voices nu diayakeun ku masarakat National Geographic. Nepika danget ayeuna, aya kurang leuwih salosin basa nu dikira-kira bakal leungit dina waktu deukeut, kaasup dua di Amérika Kalér, hiji di Oklahoma, hiji di Pasifik Wétan, hiji di British Columbia, Orégon, Washingon jeung California. Séjénna sumebar di Paraguay, India, Papua Nugini, jeung Sibéria. Hasil gawé ieu bisa dipaluruh di http://www.livingtongues.org. Di wébsite éta disadiakeun peta interaktif jeung katerangan ngeunaan basa-basa di sakuliah dunya.

Lian ti basana sorangan, naon nu bakal ilang lamun hiji basa punah?
Ieu panalék nu alus pisan. Lolobana jalma mikir siga kieu, "Sigana bakal leuwih hadé lamun kabéh jalma nyarita maké basa Inggris." Uing teu satuju kamandang éta. Singsaha waé nu bisa nyarita maké dua basa (bilingual) tangtu apal yén teu kabéh basa bisa ditarjamahkeun ka basa séjénna satarabasna. Unggal basa mibanda konsép jeung pola pikir nu béda. Bakal karasa aya nu pegat atawa leungit lamun urang nyobaan narjamahkeun hiji basa ka basa séjénna kitu baé.
Pikeun jalma monolingual jeung can kungsi ngalaman kumaha hésé bélékéna narjamahkeun, uing rék nyarita: pék geura toongan sistem élmu pangaweruh radisional nu kacida beungharna. Geus kabuktian yén suku bangsa asli (pribumi) téh leuwih wanoh kana ékosistemna tibatan deungeun-deungeun.

Contona?
Dina buku When Languages Die, uing nulis, “Upama hiji basa punah, hasil karancagé uteuk salila mangratus taun ogé tangtu bakal milu punah. Conto karancagé uteuk di dieu misalna sistem kalénder, sistem usum, ngaran-ngaran sato jeung tatangkalan, logika ngitung, mitos, musik, cara hirup, jeung sajabana.” Teu kabéh bangsa bisa nyieun monumén atawa prasasti, tapi unggal bangsa pasti mibanda kabeungharan basa jeung kosa kecapna sewang-sewang.

Buku uing éta loba pisan nyaritakeun kalinuhungan basa daérah di Sibéria, lantaran di dinya pisan uing lolobana ngayakeun panalungtikan. Uing loba tatanya ka suku pribumi Tofa ngeunaan sistem luar biasa nu dipaké ku maranéhna pikeun nyieun klasifikasi raindeer (sabangsa kidang). Raindeer teh sato nu kacida pentingna keur sukuTofa mah: dagingna didahar, kulitna dijieun baju, ogé ditumpakan --siga kuda. Teu anéh mun maranéhna apal pisan kana seluk-beluk raindeer. Pangaweruh ngeunaan sato ieu dipaké ku maranéhna pikeun ngajaga kalumangsungan hirup di Siberia nu alamna gangas kacida.

Suku Tofa ngawilah-wilah raindeer kana opat dimensi matrik: dumasar umur, jalu-bikang, lindeuk-henteu, sarta subur-henteuna. Éta téh sistem élmu nu kacida ruwetna. Euweuh kecap pikeun ngawilah-wilah raindeer ieu boh dina basa Rusia atawa basa Inggris. Jadi, upama suku Tofa dipaksa bari rurusuhan kudu make basa dominan, pangaweruh ngeunaan raindeer ieu bakal leungit.

Urang geus loba kaleungitan élmu ngeunaan tutuwuhan obat, ékosistem laut, jeung rupaning paré nu baheula jumlah variétasna nepika 120 rébuan. Élmu ngeunaan ngaran jeung rupa variétas paré ieu nu ukur dipikanyaho ku suku bangsa pribumi. Hanjakal pisan upama pangaweruh ieu leungit. Loba pisan nu can kacatet ku dunya modérn.

Ti taun 1600-an, kacatet aya 484 spésies sato jeung 654 spésies tatangkalan nu geus punah. Tapi ayeuna, potensi punahna basa daérah (40%) singhoreng leuwih gédé tibatan proséntase punahna manuk (11%), mamalia (18%), lalaukan (5%), atawa tatangkalan (8%).
Karugian ku bakal kaalaman ku leungitna basa hésé pisan ditarima ku akal séhat jalma awam. Maranéhna leuwih bisa narima jeung ngarti résiko leungitna spésies tatangkalan upama leuweung Amazon dibukbak, misalna, tibatan résiko leungitna basa. Padahal ceuk Ken Hale, ahli basa kawentar, “Upama hiji basa leungit, urang sakaligus bakal kaleungitan budaya, hasil karya inteléktual, sarta hasil karya senina. Sarua baé jeung muragkeun bom ka Museum Louvre.”

Cobi langkung jéntrékeun deui...
Suku-suku pribumi téh pakar ngeunaan ékosistemna sorangan. Uingah sok ngarasa ningnang upama lalajo tim élmuwan ti Amérika nu ngayakeun panalungtikan di Vénézuéla atawa Nugini, tuluy dina TV maranehna ngalaporkeun, “Tim kuring geus manggihan 6 spésies manuk anyar,” jeung saterusna. Saupama tim élmuwan dina ékspédisi samodél kieu daek ngariung jeung suku pribumi nu nyicingan éta tempat, tuluy nanya ka maranéhna maké basa daérahna, “Cik béjaan ngeunaan rupa-rupa tatangkalan, lauk jeung manuk nu aya di wewengkon dieu!” Tangtu tim éta bakal nimu leuwih ti 6 spésies manuk anyar.

Élmuwan nu daék tatanya ka pribumi bakal colohok mata simeuteun mun ngaregepkeun kanyaho suku pribumi ngeunaan ékosistemna. Pangaweruh suku pribumi bisa jadi leuwih kompléks, leuwih canggih, jeung leuwih beunghar dina urusan klasifikasi manuk, misalna, tibatan taksonomi Barat. Loba kasus nu nuduhkeun yén pangaweruh jeung kaarifan lokal ngeunaan ékosistem, leuwih onjoy tibatan élmu pangaweruh modérn. Maranéhna nu cicing di Kutub Kalér boga pangaweruh linuhung ngeunaan és jeung pola cai katut migrasi. Di éra global warming cara ayeuna, pangaweruh éta teh kacida pentingna.

Singgetna dina hal ieu, lamun basa daérah dileungitkeun, bakal aya 3 karugian nu bakal karandapan: ilangna pangaweruh ékosistem jeung ngaran rupa-rupa spésies, ilangna basa éta sorangan, jeung ilangna sistem pangaweruh ngeunaan ékosistem nu aya dina basa éta.

Naha panyatur basa daérah sadar yén lamun maranéhna maot, basa daérahna bakal punah?
Sadar sarta ngaku. Maranéhna sadar basana keur digunasika, ngaku yén gagal nurunkeun élmuna, sarta manglebarkeun generasi ngora nu haré-haré jeung nganggap sapélé.
Hadéna, krisis basa daérah teh nimbulkeun gerakan ti akar rumput sakuliah dunya nu miharep ayana révitalisasi basa, di antarana di Kanada jeung Amérika Kalér. Maranehna teu satuju kana pamanggih nu nyimpulkeun yén lantaran panyatur hiji basa daérah geus saeutik, mangka éta basa daérah éta kudu dileungitkeun.

Kumaha prakprakanana prosés dokuméntasi basa?
Minangka deungeun-deungeun, jalma luar nu angkaribung ku alat rékam jeung sajabana, masalah utama nu disanghareupan ku uing dina panalungtikan nyaéta kuma cara sangkan bisa ngaraéh kapercayaan ti panyatur-panyatur basa daérah nepika maranéhna daék diajak deuheus. Tugas utama linguis minangka élmuwan étis nyaéta ngawanohkeun diri jeung pamaksudanana kalayan jéntré. Kudu taki-taki enyaan, sakapeung malah nepungan heula kapala suku --mun aya kénéh sabangsa nu kitu, tuluy ngawanohkeun manéh pikeun ménta izin jeung panangtayungan salila cicing di wewengkon eta. Nyanghareupan individu gé sarua carana, mimitina ménta izin heula pikeun ngarékam jeung ngamangpaatkeun matéri rékaman éta engkéna, ogé méré kompénsasi mangrupa duit pikeun ngagantian waktu nu disadiakeun ku maranéhna.

Uing hayang ngawangun hubungan nu alus jeung suku bangsa pribumi, lain ngan ukur datang, ngarékam, tuluy balik ngaringkid matéri. Matakna, uing sok ngahaja néangan individu lokal nu kalibet dina kagiatan basa, tuluy nanyakeun naon nu bisa dibantuan jeung naon nu dibutuhkeun ku maranéhna. Biasana maranéhna téh ménta, misalna, “Buku abjad ABC” atawa “Kamera video”. Sok dibéré. Uing gé mangnyieunkeun kamus wicara nu basisna internét atawa naon baé cara, média, jeung téknologi anyar nu bisa dimangpaatkeun pikeun ngarojong kalumangsungan hirup basa-basa daérah nu ampir punah éta.

Naha jasa panarjamah digunakeun pikeun komunikasi jeung suku pribumi?
Di Sibéria mah uing maké basa Rusia. Nu penting mah uing diajar saloba-lobana ngeunaan basa maranéhna. Ayeuna uing bisa nyarita dina sababaraha basa nu saeutik pisan jalma nu nyaho, nu panyaturna kari 10-30 urang deui. Uing bisa miluan ngawangkong, ngadéngékeun, jeung ngarti naon nu dicaritakeun ku panyatur aslina.

Sakapeung uing gé kudu maké basa séjén siga Inggris, Sepanyol atawa Rusia atawa basa global séjénna. Lamun geus euweuh deui basa nu bisa dipaké médium, bari euweuh panarjamah, uing make téhnik séjén.

Dina film “The Linguists”, interaksi munggaran dilakukeun ku cara nuduhkeun bagéan awak, biasana dada, bari nyebut ngaran. Geus kitu, uing jeung Dr. Greg Anderson kukurilingan di wewengkon éta, nyokotan gambar objék nu dianggap penting, tuluy néangan jalma pikeun nyebutkeun ngaran-ngaran objék dina foto éta. Jadi aya téhnikna. Balatak kénéh basa-basa daérah nu can kungsi kadokuméntasikeun. Sakapeung rékaman nu dijieun ku uing téh jadi rékaman munggaran sakaligus pamungkas, sabab panyatur basa daérah éta geus kolot teuing, can tangtu hirup keneh taun hareupna.  

Naon guna basa pikeun budaya, jeung kumaha budaya bisa mangaruhan basa?
Basa mangrupakeun puseur budaya. Uing di dieu ngutip Nora Vasques, nu diwawancara dina film The Linguists, lantaran ceuk uing mah, panyatur basa daérah bisa leuwih paséh jeung merenah nyaritakeun eusi haténa tibatan jalma luar. Nora téh panyatur Chemehuevi, hiji basa nu panyaturna ngan kari dua urang deui. Cenah, “Basa mangrupakeun bagéan tina diri urang. Basa teh rénghap. Teu boga basa sarua hartina jeung teu boga nyawa.”

Omongan éta bedas pisan. Basa téh ngébréhkeun panénjo ngeunaan dunya. Basa téh monumén budaya manusa. Réa jalma nu teu suka mun Katédral Notre Dame atawa Piramida Giza diancurkeun. Tapi basa leuwih gédé hartina tibatan katédral jeung piramida. Basa téh monumén karancagé manusa. Basa teh perkara nu leuwih kuno jeung leuwih aheng tibatan naon baé nu kungsi dijieun ku leungeun manusa.


Basa daérahna nu ampir punah téh lolobana aya di nagara miskin. Pangwangunan bisa ngamajukeun nagara-nagara ieu, tapi maéhan basana. Kumaha cara supaya tuker-tambahna adil?
Euweuh sahiji jelema, sakumaha miskinna, nu bisa beunghar ku cara miceun basa daérahna tuluy mulung basa global pikeun dipaké. Nu aya malah bakal tambah miskin sacara inteléktual. Urang sakabeh, kolot-budak, utamana barudak, bisa diajar bilingual atawa multilingual. Malah, barudak bakal leuwih calakan mun maranéhna ngawasa dua atawa loba basa (multilingual). Teu kudu miceun basa daérah. Panalungtikan ngabuktikeun yén bilingual téh nguatan uteuk.

Lian ti éta, basa daérah nyadiakeun tatapakan étnis jeung jati diri nu kuat pikeun generasi ngora. Salah pisan --sakapeung demi alesan pangwangunan atawa kampanyeu kasusatraan nasional, upama urang kudu ngécagkeun basa daérah demi basa nu leuwih dominan. Panyatur basa daérah Aymara, Zapotéc, Aka, atawa Mowhawk, nolak ideologi ieu. Maranéhna nyieun kaputusan stratégis keur kasalametan basa daérahna bari angger ngawasa basa dominan/global.

Kamekaran basa daérah kudu dirojong. Carana, laku-lampah urang kudu diubah. Lamun urang geus bisa ngahargaan pangaweruh inteléktual nu asalna tina pangaweruh basa daérah, kakara urang bisa nyalametkeun basa daérah éta. Euweuh nu nyaho gagasan jenius naon nu bakal jebul tina basa daérah naon: euweuh monopoli budaya dina urusan karancagé mah.

Naon nu rek ditepikeun ka nu maca?
Loba pisan élmu pangaweruh di sakuliah dunya, nu tacan kasungsi jeung katalungtik. Sakapeung mah asa dosa, rumasa cul-culan. Unggal ngawangkong jeung kokolot-kokolot suku pribumi asli, uing teu sirikna dongko hareupeun maranéhna, asa laip, nyurucud cimata di unggal kecap, unggal dongéng nu ditepikeun ku maranéhna...
 

Sabtu, 08 Desember 2012

Andre Hirata

Andrea Hirata

Andrea Hirata
Andrea Hirata.jpg
Nama lahir

Andrea Hirata Seman Said
Harun

Lahir24 Oktober 1982
Bendera Indonesia Indonesia
Pekerjaan penulis
Tahun aktif 2006 - sekarang
Situs resmi www.andrea-hirata.com
Andrea Hirata Seman Said Harun (lahir di Belitung, 24 Oktober 1982; umur 30 tahun) adalah novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia. Ia berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah novel Laskar Pelangi, novel sastra yang paling laris di Indonesia dari tahun 2006 sampai sekarang. Laskar Pelangi dijadikan hadiah ulang tahun, bahan pidato pengukuhan seorang guru besar, tesis dan desertasi, mas kawin mendampingi Al-Qur’an-kitab suci umat Islam, dijadikan soal ujian nasional Bahasa Indonesia untuk para pelajar Indoensia, dan didiskusikan di mesjid-mesjid, gereja-gereja, dan oleh berbagai macam agama sebagai rujukan toleransi dan bentuk baru kesepahaman antar agama, suku, dan ras.[rujukan?] Kemampuan novel Laskar Pelangi untuk memukau anak-anak kecil berusia 7 tahun sampai pada professor-professor universitas berusia 70 tahun, dan menggapai seluruh kalangan baik secara sosial ataupun reliji adalah kemampuan misterius yang dimiliki Andrea Hirata.[rujukan?] Novel Laskar Pelangi telah menginspirasi jutaan orang Indonesia dan merupakan novel yang paling banyak pula diadaptasi menjadi berbagai bentuk seni lainnya, seperti film, lagu-lagu, dan drama musikal.[rujukan?]
Andrea Hirata menghasilkan tetralogi novel, yaitu :
  1. Laskar Pelangi
  2. Sang Pemimpi
  3. Edensor
  4. Maryamah Karpov
Selain Tetralogi laskar pelangi, Andrea juga menghasilkan karya lain, yaitu Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas yang terbit tahun 2010. Sebelas Patriot (2011), Laskar Pelangi Song Book (2012).
Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi, astronomi dan sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa di Himalaya.
Andrea mendapat beasiswa program master di Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah.

Daftar isi

Andrea Hirata Merevolusi Sastra Indonesia

Novel Laskar Pelangi Menembus 21 Negara dan Penerbit Para Pemenang Nobel Sastra di Amerika Serikat

Novel Laskar Pelangi Menembus 21 Negara dan Penerbit Para Pemenang Nobel Sastra di Amerika Serikat (Rilis terbaru, 25 Juni 2012)
Pada Tanggal 12 Maret 2012 Andrea Hirata menandatangani perjanjian penerbitan The Rainbow Troops (edisi international novel Laskar Pelangi) dengan Kathleen Anderson Literary Management, New York dan Penerbit Farrar, Straus and Giroux (FSG), New York. FSG adalah penerbit terbaik di Amerika yang telah berdiri sejak tahun 1946 dan melahirkan karya-karya 23 pemenang nobel sastra antara lain adalah TS. Eliot, Pablo Neruda, Nadine Gordimer, Seamus Heaney, dan Mario Vargas Llosa yang mendapat nobel sastra tahun 2010. Pada tanggal 25 Mei 2012, FSG mengumumkan secara global cover novel The Rainbow Troops versi Amerika Serikat dan Canada. (Lihat:http://www.antaranews.com/berita/313500/sampul-novel-andrea-hirata-setara-peraih-nobel, www.andrea-hirata.com)
Sarah Crichton (editor novel internasional best seller A Long Way Gone, Ishmael Beah) yang juga akan menjadi editor The Rainbow Troops mengatakan: “I am absolutely thrilled that we will get to publish your uplifting, heartbreaking, captivating—in short, truly wonderful—novel. When I read it, it made me laugh out loud, and cheer, and weep… I loved all the children, and I loved their teachers…. You are a masterful storyteller, and I am very proud to be able to publish you”. The Rainbow Troops akan beredar di 580 toko buku di Amerika Serikat dan Kanada serta negara berbahasa Inggris lainnya pada Januari 2013. Peristiwa ini adalah pertama kali karya penulis Indonesia diterbitkan oleh penerbit kelas dunia seperti FSG. Andrea Hirata telah merevolusi sastra Indonesia, kenyataan bahwa sebagian besar penulis yang diterbitkan FSG telah memenangkan nobel sastra membuat Andrea Hirata diwacanakan sebagai nominator Nobel Sastra. (Lihat news: www.chloemeslincousteau.multiply.com, Byron Bay Writers’ Festival 2012: http://www.byronnews.com.au/story/2012/06/20/literary-giants-to-share-some-big-stories/)
Menyusul kontrak dengan FSG, The Rainbow Troops juga akan diterbitkan oleh penerbit kelas dunia lainnya yaitu Random House dan penerbit legendaris internasional Penguin. Random House akan menerbitkan The Rainbow Troops di Australia dan New Zealand. Penerbit terkemuka di Italia, Rizzoli, yang menerbitkan novel Eat, Pray and Love dan Three Cups of Tea, juga akan menerbitkan The Rainbow Troops. Majalah sastra Italia, IL CORRIERE DELLA SERA membuat publisitas besar-besaran tentang The Rainbow Troops : “Along the lines of "The X million copy bestseller which you haven't heard about...yet!" or "You think the Italian public school system has gone down the drain: wait until you read about THIS school.”
The Rainbow Troops juga diterbitkan oleh Penerbit terkemuka Hanser-Berlin (Jerman), Atlas-Contact (Belanda), yang menerbitkan buku Haruki Murakami, Temas de Hoy (Spanyol), Sunmark (Jepang), Yi Lin Press (China), Butik Yayinlari (Turki), dan Editora Sextante (Brazil). Edisi Brazil dalam bahasa Portugis telah terbit dengan judul Guerreiros da Esperanca dan mendapat review yang sangat positif dari Koran terbesar Brazil O GLOBO sebagai karya sastra Indonesia yang sangat mengejutkan (Lihat: http://www.editoraarqueiro.com.br/livros/ver/162 ) The Rainbow Troops ini diterbitkan bersama karya Nicholas Sparks (Penulis novel The Notebook dan A Walk To Remember) dan Harlan Coben (Pemenang Edgar Allan Poe Award tahun 1995). Sampai sejauh ini (Juni 2012) Laskar Pelangi diterbitkan di 22 negara dalam 19 bahasa. Adapun penerjemahan novel Laskar Pelangi sedang berlangsung ke dalam lebih dari 30 bahasa asing.

Andrea Hirata telah menerbitkan delapan karya yaitu Laskar Pelangi (2005), Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), Maryamah Karpov (2008), Padang Bulan (2009), Cinta di Dalam Gelas (2009), Sebelas Patriot (2010), dan Laskar Pelangi Song Book (2012). Laskar Pelangi Song Book berisi kisah-kisah dari Negeri Laskar Pelangi (Belitong) dan lagu-lagu karya Andrea Hirata yang dibawakan oleh Meda dan Cut Niken.

Kamis, 06 Desember 2012

Si kabayan

Filosofi si Kabayan


Teu kudu ngarasula mun urang can diparengkeun pinanggih jeung kabagjaan. Naon sababna? Da hirup mah lain keur senang-senang, kitu saur pa Ustad oge. Ari geus keur naon atuh saestuna urang hirup teh?
Jawaban idealna, hirup teh lir ibarat sakola. Unggal poe urang kudu terus-terusan diajar. Kudu perih, teu kaci ogoan, teu kaci melencing, mumul, babarian jsb. Ku naon make kudu tipoporose diajar? Pan sangkan lulus ujian. Eta tujuan jangka pondokna. Cukup nepi ka dinya? Tangtu bae henteu ngan ukur tepi ka dinya, sabab tujuan jangka panjang sarta anu pangpentingna pisan mah bisa nyangking tur ngamalkeun naon-naon anu ku urang diundeuran di sakola. Ku naon pangna kudu lulus ujian? Pan nya di dinya pisan urang bisa ngukur kamampuh urang sangkan kanyahoan nepi kamana nyerepna elmu.
Sanajan hirup memang lain keur senang-senang, tapi lain hartina hirup teh bakal susah salilana. Cek si Kabayan, hirup mah heuheuy jeung deudeuh. Maksudna, tara senang salilana, oge sabalikna tara susah salilana. Aya waktuna urang seuri bungah, sanajan kadang-kadang urang kudu ngarandapan kasedih, katugenah jeung sajabana. Hanjakalna, kalolobaanana urang mah sok sarakah, hayang senang salilana, nepi ka lamun ngarandapan kasusah teh sok aral, malah sakapeung mah jiga nu mangloh ka Pangeran. "Duh Gusti, na hirup teh mani asa susah-susah teuing atuh?" Padahal mun keur senang mah boro-boro inget kana sukuran, nganuhunkeun ka nu Maha Masihan Kasenangan.
Mun urang daek diajar, sabenerna loba hal anu bia diconto tina carita-carita si Kabayan. Tokoh rekaan nu hirup dina budaya Sunda ieu teh, saestuna lain ngan saukur tokoh pangedulan nu kabisana ngan ukur nipu batur, calutak ka mitoha jsb. Si Kabayan mah ngan ukur wayang. Sikep, rengkak paripolah, katut pamikiranana ditangtukeun ku dalang nu ngigelkeunana. Ajip Rosidi dina salah sahiji essayna kungsi nyebutkeun:
"...pasipatan tokoh si Kabayan téh henteu salilana konsisten. Maksud téh dina saban carita sipat si Kabayan téh henteu salilana sarua. Sakapeung digambarkeun pangedulan, teu nyaho di cedo, wani kurang ajar ngaheureuykeun mitoha. Sakapeung digambarkeun jadi tukang tipu anu resep ngabobodo batur kaasup mitohana sorangan. Cindekna unggal pangarang anu nyiptakeun carita si Kabayan bisa ngagambarkeun pasipatan tokohna luyu jeung kahayangna."
Hanjakalna, cek pamanggih kuring, aya nu kaliwat dina statement Ajip. Si Kabayan teu salawasna digambarkeun ngabogaan sipat negatip. Lamun urang leukeun ngalenyepanana, saenyana dina dongeng si Kabayan loba siloka nu bisa dijadikeun luang. Upamana wae tina carita di handap ieu:
Hiji poe si Kabayan jeung si Lamsijan jalan-jalan ngajugjug ka hiji tempat. Sapanjang jalan si Lamsijan teu weleh gogodeg sabab teu ngarti ku lalampahan si Kabayan. Unggal manggih tanjakan si Kabayan ngagakgak seuseurian siga nu manggih kabungah rongkah. Sabalikna, unggal manggih pudunan manehna ceurik ngageunggeuik jiga nu kanyenyerian. Banget teu ngarti, tungtungna si Lamsijan nanya.
"Kabayan, kami mah teu ngarti, ku naon unggal manggih tanjakan silaing kalah seuseurian, padahal kami mah kacida susahna sabab nanjak teh cape? Ari manggih pudunan, hayoh kalah curik jiga nu susah, padahal kami mah bungah, sabab leumpang ge ngareunah teu matak cape. Henteu siwah mah silaing teh?"
"Ah, teu gelo teu sing. Silaing we nu bodo. Ieuh Lamsijan, pangna kami seuseurian mun manggih tanjakan teh, kami mah nyaho mun geus nanjak pasti manggih pudunan. Pan lain matak bungah eta teh? Nu matak kami kalahka seuseurian. Sabalikna mun keur leumpang dina pudunan, kami kacida sedihna, sabab yakin sanggeus beak pudunan, pasti bakal manggih tanjakan. Na dikira ngeunah kitu leumpang di nu nanjak teh? Nu matak tong heran mun kami ceurik sajeroning leumpang mapay pudunan."
Sabengbatan, carita di luhur siga carita lelewodeh ti jelema nu teu pati jejeg. Padahal saestuna ieu teh siloka nu kacida lantipna. Aya pesen moral yen urang salawasna kudu siap nyanghareupan kajadian naon bae nu bakal tumiba ka urang. Mun ayeuna kabeneran keur nanjung jadi pejabat, ulah nepi ka poho yen hiji mangsa mah urang bakal turun tina kalungguhan nu keur dicangking kiwari. Mun urang keur beunghar lubak libuk  loba dunya, ulah poho yen eta teh ukur titipan, tur kudu rido mun sawaktu-waktu dipundut ku nu Kagungan. Sabalikna mun urang keur aya dina kasusahan, omat ulah putus pangharepan, sabab pasti dina hiji mangsa mah urang bakal kasinugrahaan ku kasenangan.
Pan cek tadi ge, hirup mah heuheuy jeung deudeuh.

Carita pondok Sunda (carpon)

Sunda_Carita pondok (carpon)

      Carita pondok (carpon)
Carita pondok téh aya sasaruana jeung dongéng, boh dongéng boh carita pondok pada-pada carita anu parondok. Ngan baé lamun dina dongéng sok aya babagian anu pamohalan, dina carita pondok mah umumna  euweuh, tegesna mah eusi caritana téh kaharti ku akal. Palakuna, jalan caritana, tempat jeung waktu kajadianana, diréka lira nu enya kajadian. Gelarna ogé béda, dongéng mah umumna hasil sastra béh ditu, ari carita pondok hasil sastra kaayeunakeun. Cara nyebarna dongéng mah umumna ku lisan sedengkeun carita pondok mah ku tulisan.
Dina taun 1929 di urang medal majalah “Parahiangan” nu dikaluarkeun ku Bale Pustaka. Dina ieu majalah sok dimuat carita pondok. Lian ti dina majalah, carita pondok téh gelar dina buku. Buku kumpulan carita pondok anu mimiti gelar judulna “Dog-Dog Pangréwong”, dikaluarkeun ku Bale Pustaka taun 1930. Ngaran anu ngarangna ukur ditulis aksara mimitina, nya éta G. S. Jadi genep taun leuwih ti heula batan kumpulan cerita pendek atawa cerpen dina sastra Indonésia, anu judulna “Teman Duduk” karangan Muh. Kasim anu medal dina taun 1936.
Conto judul buku kumpulan carita pondok:
a.       Carita Biasa (1959) karangan RAF (Radén Ading Affandie)
b.      Papacangan (1960) karangan Rusman Sutiasumarga
c.       Hujan Munggaran (1960) karangan Ayat Rohaédi
d.      Dongéng Énténg ti Pasantrén (1961) karangan RAF
e.       Di Luhureun Jukut Reumis (1965) karangan Yus Rusyana
f.       Diwadalkeun ka Siluman (1965) karangan Ki Umbara, jrrd.
Lian buku anu dieusi kumpulan carita pondok ti saurang pangarang, aya ogé buku anu dieusi kumpulan carita-carita pondok ti sababaraha pangarang. Buku anu kitu disebutna kembang rampé atawa antologi. Buku antologi anu dieusi carita pondok Sunda judulna “Kanjut Kundang” taun 1963, beunang nyusun Ajip Rosidi jeung Rusman Sutiasumarga.

Cerita pendek

Cerita pendek

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

Daftar isi

Sejarah

Asal-usul

Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.
Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.
Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.
Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.

Cerita-cerita pendek modern

Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov.
Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.
Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.
Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.

Unsur dan ciri khas

Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya. Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu:

Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
  • Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
  • Latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
  • Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
  1. Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
  2. Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
  3. Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
  1. Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
  2. Penampilan masalah: bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku cerita.
  3. Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
  4. Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
  5. Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
  • Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
  1. Dialog tokoh
  2. Penjelasan tokoh
  3. Penggambaran fisik tokoh
  • Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
  • Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
  • Latar belakang kehidupan pengarang
  • Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan

Ukuran

Menetapkan apa yang memisahkan cerita pendek dari format fiksi lainnya yang lebih panjang adalah sesuatu yang problematik. Sebuah definisi klasik dari cerita pendek ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (hal ini terutama sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe "The Philosophy of Composition" pada 1846). Definisi-definisi lainnya menyebutkan batas panjang fiksi dari jumlah kata-katanya, yaitu 7.500 kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita pendek umumnya merujuk kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.
Cerita yang pendeknya kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction). Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita pendek digolongkan ke dalam novelette, novella, atau novel.

Genre

Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa lirik dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru.

Cerita pendek terkenal

Lihat pula

Pranala luar

Biografi Kepenulisan Blogger

Komunitas Guru Menulis Komunitas bagi para guru/dosen yang se...